Rancangan Aplikasi Web untuk Pustakawan

Saat ini beberapa perpustakaan memiliki kendala dalam pengelolaan data dan efisiensi pelayanan peminjaman dan pengembalian buku yang dilakukan oleh petugas perpustakaan. Kompleksnya koleksi perpustakaan, data pengunjung, dan transaksi peminjaman menuntut kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi proses bisnis di perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem informasi perpustakaan berbasis web yang dapat membantu pengelolaan data dan meningkatkan kualitas pelayanan transaksi peminjaman pada perpustakaan. Metode pengembangan sistem yang digunakan pada penelitian ini adalah metode waterfall yang mana pada tahap perancangan dan implementasi menerapkan pola perancangan model view controller atau MVC. Sedangkan pada proses pengujian dilakukan beberapa tahap pengujian secara berurutan yaitu unit testing, integration testing, validation testing, reliability testing, compatibility testing, dan acceptance testing. Unit testing menggunakan teknik basis path menunjukkan hasil bahwa sistem memiliki struktur yang sederhana, mudah dipahami dan diimplementasi. Integration testing menggunakan metode white box menunjukkan hasil yang valid. Validation testing menggunakan metode black box menunjukkan bahwa 26 fungsi berjalan dengan baik. Reliability testing dengan menggunakan perhitungan nelson menunjukkan bahwa sistem dapat berjalan dengan konsisten. Compatibility testing menunjukkan sistem dapat digunakan dengan baik pada 6 jenis browser. Dan acceptance testing menunjukkan bahwa semua fungsi berhasil dijalankan dengan baik dan telah diterima oleh stakeholder.


 PENDAHULUAN


Sistem informasi merupakan salah satu teknologi informasi yang menyediakan informasi untuk membantu pengambilan keputusan manajemen dan memberikan informasi yang layak. Dalam upaya meningkatkan kinerja pelayanan perpustakaan, penggunaan sistem informasi merupakan alternatif atau solusi yang tepat. Alasan untuk menggunakan sistem informasi diantaranya adalah pengelolaan data dan informasi yang menyeluruh, terintegrasi, terpadu, menghasilkan informasi yang cepat dan akurat, mereduksi biaya, dan keamanan yang lebih baik.


Perkembangan perpustakaan di era saat ini dapat dilihat dari tingkat penerapan teknologi informasi guna menunjang kegiatan sirkulasi. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi membuat manusia berfikir untuk dapat bekerja lebih efektif dan efisien. Salah satunya yaitu membuat sistem konvensional menjadi sistem yang terkomputerisasi. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola perpustakaan, diketahui bahwa perpustakaan memiliki beberapa kendala diantaranya kesulitan dalam mencari buku yang diinginkan, seringnya terjadi kehilangan buku dikarenakan data pencatatan transaksi peminjaman tidak dikelola dengan baik, selain itu pendataan koleksi buku, pendataan inventaris perpustakaan, pendataan anggota perpustakaan, dan pengelolaan peminjaman serta pengembalian buku yang masih dilakukan secara manual, yaitu masih dituliskan pada buku. Antrian panjang kerap kali terjadi saat pengunjung melakukan sirkulasi peminjaman akibat layanan perpustakaan yang masih menerapkan sistem manual membuat pengunjung harus menunggu lama untuk mendapatkan giliran transaksi. Pendaftaran keanggotaan juga ditemukan kendala karena calon anggota harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan kartu anggota perpustakaan, waktu terbit kartu anggota pun terkadang masih belum dapat dipastikan sehingga mengakibatkan anggota yang baru terdaftar tidak dapat melakukan peminjaman buku sebelum mendapatkan kartu anggota perpustakaan. Selain itu di Perpustakaan Kecamatan Bungah terdapat seorang petugas tetap dalam melakukan transaksi sirkulasi dengan cara manual membuat pekerjaan petugas dirasa kurang efisien dalammelayani semua aktivitas pengunjung perpustakaan.


Sehubungan dengan penelitian ini penulis mengusulkan sebuah sistem informasi yang dapat membantu meningkatkan pelayanan perpustakaan dan mempermudah dalam pengelolaan koleksi datanya. Peneliti akan merancang, mendesain,serta mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan dengan menggunakan pola perancangan model view controller (MVC)dan menggunakan model waterfall sebagai acuan dalam pengembangannya.


LANDASAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sistem Informasi Perpustakaan


Menurut Riki Nuryadin (2014) sistem informasi perpustakaan dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem terintegrasi, sistem manusia mesin, untuk menyediakan informasi yang mendukung operasi, manajemen, dan fungsi pengambilan keputusan dalam sebuah perpustakaan. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajeman, dan pengambilan keputusan basis data.


Adapun manfaat dari penerapan sistem informasi di perpustakaan adalah sebagai berikut:


1. Dapat mempermudah dan mempercepat layanan

2. Meningkatkan mutu layanan

3. Secara tidak langsung mengarsipkan atau memasukkan data teknis ketersediaan bahan koleksi maupun pengguna

4. Mempermudah pencarian arsip maupun penelusuran

5. Merupakan sebuah alternative pelayanan yang menarik dan interaktif antara petugas dan pengguna.


2.2 Model Waterfall


Menurut Oka (2017) Waterfall merupakan model klasik yang sederhana dengan aliran sistem yang linier, keluaran dari tahap sebelumnya merupakan masukan untuk tahap berikutnya. Royce (1970) seperti dikutip oleh professor Hubmann (2009) dalam publikasi


elektroniknnya memperkenalkan model waterfallnya Royce. Wiston Royce dari managing the Development of large System memperkenalkan model waterfall seperti pada Gambar 1.



Gambar 1. Model Waterfall

Sumber diadaptasi dari Royce (1970) dalam Human 2009.

2.3 MVC (Model View Controller)


Menurut Nugroho (2009) MVC adalah sebuah metode pemisah tampilan pengguna (view) dari kendali asupan pengguna (controller) dan model informasi yang mendasarinya (model), seperti yang tampak pada Gambar 2. Untuk hal tersebut, ada beberapa alasan pokok mengapa model MVC menjadi sangat bermanfaat, yaitu penggunaan ulang komponen-komponen antarmuka pengguna, kemampuan untuk mengembangkan aplikasi dengan antarmuka pengguna secara terpisah, kemampuan untuk melakukan pewarisan (inheritance) dari berbagai bagian yang berbeda pada suatu hierarki kelas, kemampuan untuk mendefinisikan kelas-kelas pengaturan tampilan (control style) yang menyediakan fitur-fitur umum ditampilkan oleh aplikasi yang kita kembangkan.



                        Gambar 2. ModeliMVC

Sumber: Nugroho (2009)



3. METODOLOGI




Gambar 3. Langkah-langkah Penelitian


3.1 Studi Pustaka dan Penyusunan Dasar Teori


Studi pustaka dilakukan dengan memperoleh data dari berbagai buku, jurnal, dan halaman web yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian untuk menunjang penelitian itu sendiri. Teori pendukung untuk penelitian ini meliputi perpustakaan, teknologi informasi perpustakaan, sistem informasi perpustakaan, System Development Life Cycle (SDLC), model waterfall, pola perancangan Model View Controller (MVC).


3.2 Pengumpulan Data


Metode yang dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data diantaranya dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Observasi dilakukan dengan meninjau secara langsung di lapangan untuk mengamati aktivitas layanan sirkulasi pada Perpustakaan Kecamatan Bungah. Wawancara dilakukan melalui tatap muka dan Tanya jawab langsung dengan pihak yang terlibat dalam aktivitas sirkulasi perpustakaan yaitu petugas Perpustakaan Kecamatan Bungah tentang bagaimana proses dan masalah yang dihadapi dalam sirkulasi peminjaman dan pengelolaan data perpustakaan. Studi dokumen dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari sejumlah dokumen perpustakaan seperti dokumen pembukuan data transaksi peminjaman, data buku, data anggota, data inventaris, data tamu/pengunjung serta dokumen prosedur layanan perpustakaan.


3.3 Analisis Kebutuhan Sistem


Untuk mendapatkan spesifikasi kebutuhan sistem yang akan dibangun, peneliti melakukan analisis sistem yang berjalan, analisis sistem susulan menggunakan pemodelan proses bisnis dengan BPMN, kemudian mengembangkankan sistem sesuai dengan kerangka model waterfall mulai dari tahap analisis dan definisi persyaratan hingga tahap pengujian.


3.4 Perancangan Sistem


Perancangan sistem merupakan gambaran dari analisis kebutuhan. Perancangan sistem meliputi: Unified Modelling Language (UML), basis data, dan tampilan. Pemodelan UML sistem ini mengikuti pola perancangan Model View Controller (MVC) untuk mempermudah dalam pengelolaan dan pengembangan sistem karena adanya pemisahan antara model, view, dan controller.


3.5 Implementasi


Implementasi kode dibuat ke dalam bahasa pemrograman PHP dan menggunakan basis data MySQL. Implementasi kode untuk membentuk fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh program dibuat dengan bantuan framework Bootstrap.



3.6 Pengujian


Sistem yang telah dibuat dan memenuhi fungsi-fungsi yang dibutuhkan akan diuji menggunakan teknik basis path testing untuk melakukan unit testing. Kemudian dilakukan integration testing antar fungsi sistem dan dilanjutkan dengan system testing untuk memastikan bahwa sistem telah diimplementasi dengan baik diantaranya pengujian sistem akan dilakukan dengan validation testing, reliability testing, dan compability testing. Dan terakhir adalah acceptance testing dengan menggunakan metode black box terhadap stakeholder untuk mengetahui apakah sistem telah sesuai dengan kebutuhan pengguna atau tidak.


ANALISIS KEBUTUHAN 4.1 Identifikasi Proses Bisnis


Pada penelitian ini berfokus pada proses bisnis keanggotaan dan peminjaman buku, serta pengembalian buku. Gambar 4 merupakan pemodelan proses bisnis dengan menggunakan BPMN sebagai notasinya.


4.2 Analisis Permasalahan


Pada penelitian ini ditemukan beberapa permasalahan dalam proses keanggotaan dan peminjaman, serta pengembalian buku yaitu pencarian buku yang dilakukan secara manual dan terbitnya kartu anggota membutuhkan waktu berhari-hari sehingga mempersulit pengunjung untuk melakukan peminjaman buku. Hal ini berdampak pada efisiensi waktu pencarian buku dan penerbitan kartu anggota yang digunakan sebagai persyaratan untuk meminjam buku. selain itu juga ditemukan masalah pelayanan peminjaman dan pengembalian buku yang lambat dikarenakan petugas harus memeriksa ketersediaan data transaksi dalam buku besar secara manual terlebih dahulu. Hal ini dapat menimbulkan antrian yang cukup panjang dari pengunjung saat melakukan transaksi. Dari permasalahan yang telah dijabarkan di atas, maka solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan menyediakan sistem yang dapat membantu meningkatkan pelayanan perpustakaan.


4.3 Kebutuhan Fungsional


Setelah menganalisis masalah pada proses bisnis, dilakukan analisis kebutuhan fungsional sistem yang dijadikan sebagai persyaratan fungsional dalam membangun sistem. Tabel 1 merupakan daftar kebutuhan fungsional sistem yang akan dibangun pada penelitian ini.


Tabel 1. Kebutuhan Fungsional



4.4 Kebutuhan Non-Fungsional


Kebutuhan non-fungsional pada penelitian ini merupakan fitur-fitur penunjang kerja sebuah sistem yang menentukan kualitas layanan secara keseluruhan untuk memenuhi kebutuhan pengguna Kebutuhan non-fungsional ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.


Tabel 2. Kebutuhan Non-Fungsional





4.5 Use Case


Use case digambarkan berdasarkan dari hasil analisis kebutuhan fungsional menunjukkan aksi-aksi yang dapat dilakukan oleh aktor. Gambar 5 merupakan use case sistem pada penelitian ini.


Gambar 5. Use Case Diagram


PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI


5.1 Class Diagram


Class Diagram sistem pada penelitian ini digambarkan mengikuti pola perancangan model view controller (MVC). Perancangan kelas-kelas sistem seperti pada Gambar 6.


Terdapat 3 kelas controller, 3 kelas model dan view masing-masing aktor yaitu Petugas, Anggota, dan Pengunjung. Pada gambar di atas menjelaskan bagaimana masing-masing komponen MVC berkomunikasi yaitu antara kelas PetugasController, PetugasModel, dan view Petugas, kemudian antara kelas AnggotaController, Anggota Model, dan view Anggota, dan yang terakhir antara PengunjungController, PengunjungModel, dan view Pengunjung. Selain itu terdapat juga 1 kelas abstract yang diturunkan pada kelas model yaitu kelas Anggota, dan terdapat 2 interface yaitu kelas Tamu dan Buku yang diimplements pada kelas model PengunjungModel dan AnggotaModel.



5.2 Physical Data Model Diagram




Gambar 6. Physical Data Model Diagram


Gambar 7 merupakan perancangan gambaran fisik database dari sistem yang dibangun. Terdapat lima dari tujuh tabel yang saling berhubungan yang membentuk empat relasi one to many antar dua tabel. Yang pertama hubungan antara tabel anggota dan tabel tamu dimana primary key di tabel anggota menjadi foreign key di tabel tamu. Yang kedua hubungan antara tabel buku dan tabel pinjam dimana primary key di tabel buku menjadi foreign key di tabel pinjam. Yang ketiga hubungan antara tabel anggota dan tabel pinjam dimana primary key di tabel anggota menjadi foreign key di tabel pinjam. Dan yang terakhir hubungan antara tabel rak dan tabel buku dimana primary key di tabel rak menjadi foreign key di tabel buku.



5.3 Sequence Diagram


Gambar 8 merupakan sequence diagram yang menjelaskan urutan proses untuk memperbarui data anggota oleh petugas. Proses dimulai dari petugas sebagai aktor sistem memilih salah satu data anggota yang ingin diperbarui, kemudian tampil layout form edit data anggota. Aktor mengisi form edit untuk mengubah data anggota. Selanjutnya controller memanggil fungsi editAnggota dan diteruskan dengan memanggil fungsi cekUsername untukmemeriksa apakah username yang dimasukkan sudah tersedia di dalam database atau belum, apabila username tidak ada dalam database maka fungsi updateAnggota pada model dipanggil untuk memperbarui data anggota. Setelah model menyimpan data anggota yang baru diubah pada database, maka controller mengirimkan data tersebut pada view untuk ditampilkan. Namun apabila username sudah ada di dalam database, maka data anggota tidak berhasil diubah dan sistem akan memberikan peringatan kepada aktor bahwa data anggota tidak berhasil diubah.


5.4 Perancangan Antarmuka


Gambar 9. Rancangan Halaman Data Anggota


Gambar 9 merupakan rancangan halaman untuk mengelola data anggota yang terdapat pada database.


5.5 Implementasi Antarmuka



Gambar 10. Screenshot Halaman Data Anggota


Gambar 10 merupakan hasil implementasi halaman pengelolaan data anggota sistem informasi perpustakaan pada penelitian ini.


6. PENGUJIAN


Pengujian sistem dilakukan secara bertahap dari unit testing hingga acceptance testing. Tahapan pertama dilakukan unit testing menggunakan salah satu metode white box testing yaitu basis path testing. Kemudian dilakukan integration testing antar dua fungsi sistem, dan dilanjutkan validation testing. Selanjutnya dilakukan pengujian non-fungsional yaitu reliability testing dan compatibility testing dengan menggunakan tools. Kemudian pengujian acceptance dengan menggunakan metode black box yang dilakukan oleh stakeholder untuk mengetahui apakah sistem telah sesuai dengan kebutuhan pengguna atau tidak.


6.1 Unit Testing


Unit testing dilakukan dengan metode white box yaitu basis path testing yang menghasilkan sebanyak 3 cyclomatic complexity dari hasil pengujian pada fungsi editAnggota yang terdapat dalam kelas PetugasController. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi editAnggota memiliki strukur program yang sederhana, mudah dipahami dan diimplementasi.


Tabel 3. Hasil Pengujian Unit


6.2 Integration Testing


Integration testing atau uji integrasi dilakukan pada fungsi dari kelas PetugasController dan kelas PetugasModel dimana kedua unit saling berhubungan. Hasil dari pengujian integrasi, fungsi editAnggota pada kelas PetugasController mengirimkan data input berisi data anggota yang kemudian dikirimkan ke fungsi updateAnggota pada kelas PetugasModel dan menghasilkan result yang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengujian integrasi fungsi editAnggota pada kelas PetugasController dengan fungsi updateAnggota pada kelas PetugasModel adalah valid.


6.3 Validation Testing


Validation testing atau uji validasi dilakukan pada seluruh kebutuhan fungsional dalam sistem dari berbagai sisi, diantaranya dari sisi petugas, anggota, dan pengunjung. Hasil dari pengujian validasi sistem menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan fungsional dalam sistem dapat dijalankan dengan baik dan menghasilkan result yang sesui dengan hasil yang diharapkan. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan fungsional pada sistem perpustakaan yang dibangun adalah valid.



6.4 Reliability Testing


Reliability testing atau uji reliabilitas dilakukan dengan menganalisa hasil stress testing menggunakan tool WAPT seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4. Dari hasil pengujian stress kemudian dilakukan perhitungan nelson dengannrumus:

  1=1−



Diketahui ne adalah jumlah input yang gagal, dan n adalah jumlah semua input. Dari perhitungan nelson dihasilkan skor reliabilitas sebesar 98,75% yang berarti bahwa sistem telah memenuhi aspek reliability dan dapat berjalan dengan konsisten.


Tabel 4. Hasil Stress Testing


6.5 Compatibility Testing



Gambar 11. Hasil Compatibility Testing


Gambar 11 merupakan hasil dari compability testing atau uji kompabilitas yang dilakukan dengan menggunakan tool Sortsite. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem dapat dijalankan di berbagai browser tanpa ada masalah konten atau fungsi yang tidak didukung pada browser. Namun, masih terdapat masalah layout atau performa pada browser Internet Explorer versi 11 dan Safari versi 10 dan 11.


6.7 Acceptance Testing


Acceptance testing atau uji penerimaan merupakan tahap pengujian akhir dari proses pengujian sistem informasi perpustakaan pada penelitian ini. Pengujian penerimaan dilakukan dengan metode black box oleh stakeholder dengan hasil menunjukkan bahwa semua fitur pada sistem berhasil dijalankan dan telah diterima oleh stakeholder karena sudah sesuai dengan kebutuhan pengguna.


7. KESIMPULAN


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:


Proses analisis kebutuhan dimulai dengan melakukan wawancara terhadap stakeholder untuk mendapatkan informasi mengenai permasalahan pada perpustakaan yang kemudian dipetakkan ke dalam tabel analisis permasalahan dan proses bisnis yang digambarkan menggunakan BPMN. Didapatkan pula informasi mengenai aktor yang terlibat yang dapat menggunakan sistem informasi perpustakaan, ada tiga aktor yang terdefinisi diantaranya yaitu petugas perpustakaan sebagai admin sistem, anggota dan pengunjung perpustakaan sebagai pengguna sistem. Setelah dilakukan analisis permasalahan, didapatkan saran mengenai rincian sistem yang dibangun untuk menyelesaikan masalah pada analisis permasalahan berupa analisis kebutuhan fungsional dan non-fungsional, dimana masing-masing terdefinisi 26 kebutuhan fungsional dan 2 kebutuhan non-fungsional. Hasil analisis kebutuhan fungsional digunakan untuk membuat diagram use case dan use case scenario yang dapat dimanfaatkan untuk membuat perancangan sistem.


Perancangan sistem menggunakan class diagram dan sequence diagram dengan pola perancangan MVC (Model View Controller) dan digambarkan dengan diagram UML. Class diagram terdiri dari 3 kelas model, 3 kelas controller, dan beberapa view masing-masing aktor yaitu view petugas, anggota, dan pengunjung, serta terdapat 1 kelas abstract dan 2 interface. Sequence Diagram digambarkan sebanyak 32 diagram masing-masing 24 sequence diagram petugas, 5 sequence diagram anggota, dan 3 sequence diagram pengunjung. Kemudian perancangan model data digambarkan dengan menggunakan diagram PDM (Physical Data Model) dimana terdapat 7 tabel diantaranya tabel anggota, tabel tamu, tabel pinjam, tabel buku, tabel rak, tabel petugas, dan tabel inventaris. Perancangan antarmuka sistem digambarkan dengan mockup sebanyak 15 perancangan halaman antarmuka sistem. Implementasi sistem menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL sebagai menajemen basis data. Implementasi sistem menghasilkan penjelasan diskriptif mengenai fungsi dan potongan program beserta screenshot tampilan dari setiap halaman pada sistem yang menggambarkan kode program yang telah diimplementasikan.


Proses pengujian sistem dilakukan secara bertahap meliputi pengujian unit, pengujian integrasi, pengujian validasi, pengujian reliabilitas, pengujian kompatibilitas, dan pengujian penerimaan pengguna. Tahap pengujian pertama yaitu pengujian basis path digunakan untuk melakukan unit testing dengan perhitungan cyclomatic complexity yang menghasilkan 3 independent path pada kasus uji unit editAnggota menunjukkan bahwa sistem memiliki struktur yangsederhana, mudah dipahami dan diimplementasi. Selanjutnya dilakukan integration testing pada kasus uji fungsi editAnggota dari kelas PetugasController dengan fungsi updateAnggota dari kelas PetugasModel menunjukkan hasil yang valid. Kemudian validation testing dilakukan dengan metode black box pada seluruh fitur dalam sistem yaitu sebanyak 26 fungsi menunjukkan hasil yang valid. Reliability testing dilakukan dengan menganalisis hasil pengujian stess dan perhitungan nelson menghasilkan skor reliabilitas sebesar 98,75% yang berarti bahwa sistem telah memenuhi aspek reliability dan dapat berjalan dengan konsisten. Compatibility testing dilakukan dengan tool Sortsite menunjukkan bahwa sistem dapat dijalankan di berbagai browser tanpa ada masalah konten atau fungsi yang tidak didukung pada browser, namun masih terdapat masalah layout atau performa browser pada Internet Explorer versi 11 dan Safari versi 10 dan 11. Acceptance testing dilakukan dengan metode black box oleh stakeholder dengan hasil menunjukkan bahwa semua fitur pada sistem berhasil dijalankan dan telah diterima oleh stakeholder.


DAFTAR PUSTAKA


Nugroho, Adi., 2009. Rekayasa Perangkat

Lunak Menggunakan UML dan Java.


Yogyakarta: Penerbit Andi.


Nuryadin, Riki., 2014. Sistem Informasi Perpustakaan. [e-journal]. Tersedia melalui: Academia



<http://www.academia.edu> [Diakses 17 Februari 2018].


Pressman, Roger S., 2010. Software

Engineering A Practitioner’s Approach, Seventh Edition. New York:


McGraw-Hill.


Oka, Gde Putu Arya., 2017. Model Konseptual

Pengembangan Produk Pembelajaran

Beserta Teknik Evaluasi. Yogyakarta:Deepublish.


Komentar